Pilihan Allah

        Jika menentukan bentuk fisik kita saja tidak bisa, apalagi menentukan takdir kita. Hanya Allahlah yang berhak menentukan kelahiran manusia, lingkungannya, keluarganya, serta pengalaman yang akan ia dapatkan dalam hidupnya. Allah pulalah yang mengilhami kita kebijakan dan kebaikan.

Iman kita bahkan tidak bergantung pada karakter kita sendiri. Allah pulalah Yang Maha Esa yang memberikan kita keimanan. Dialah yang mengarahkan, mengajarkan, dan melatih, sebagaimana jawaban Musa a.s. atas pertanyaan Firaun, “Musa berkata, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’” (Thaahaa: 50)

Karena itu, orang beriman adalah orang-orang yang dipilih oleh kemurahan Allah, “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka….” (al-Qashash: 68)

Orang-orang yang masuk neraka adalah mereka yang pantas menerimanya karena mereka menentang Allah Yang telah menciptakan diri mereka. Dengan kemurkaan Alah, mereka menerima apa yang pantas bagi mereka. Hal ini sebagaimana orang-orang yang mengharapkan surga, dengan disertai usaha-usaha untuk mensyukuri rahmat dan karunia-Nya, Allah swt. melimpahkan kemurahan dan rahmat-Nya.

Orang-orang beriman harus bersyukur telah dipilih Allah dan harus berterima kasih serta memuji Allah dengan segenap jiwa untuk semua yang telah Dia berikan kepada mereka dengan kemurahan-Nya. Mereka harus menghargai karena mereka terpilih di antara jutaan orang dan karena mereka adalah hamba-hamba yang dirahmati Allah, dipilih dan dijauhkan dari kaum yang menghadapi kehancuran. Semua tingkah laku orang beriman harus mencerminkan penghormatan terhadap hak istimewa ini. Allah menggambarkan orang-orang yang menghadapi keruntuhan,

“Demi masa. Sesungguhnya, manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Adakah penghormatan yang lebih tinggi daripada diselamatkan dan dimuliakan oleh Tuhan seluruh alam?

Allah Tidak Membebani Makhluk-Nya Melainkan Sesuai dengan Kemampuannya

        Sebagian besar manusia mengklaim bahwa sangat sulit bagi mereka untuk melaksanakan ajaran agama dan itulah alasannya mengapa mereka tidak menjalankan prinsip-prinsip agama. Dengan cara ini, mereka berharap kesalahan mereka berkurang. Akan tetapi, mereka hanya membohongi diri mereka sendiri.

Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Sebagaimana dikatakan Al-Qur`an, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakanny….” (al-Baqarah: 286)

Ayat lain menegaskan bahwa agama yang Allah pilihkan bagi kita sangat mudah seperti halnya agama Ibrahim,

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur`an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (al-Hajj: 78)

Dalam masalah ini, adalah kebohongan yang besar bila seseorang menyatakan sulit dalam menjalankan ajaran agama dan menjadikan hal ini sebagai alasan untuk kelalaian diri mereka sendiri.

Kematian Itu Dekat

       Pada dasarnya, kaum yang mementingkan duniawi adalah bodoh, ceroboh, dan dangkal pikirannya. Hidup mereka tidak berdasarkan logika, tetapi mereka hidup dengan kesesatan dan keyakinan yang salah serta mengikuti sangkaan yang berakhir dengan kekeliruan. Salah satu kekeliruan ini adalah keyakinan mereka tentang kematian. Mereka percaya bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.

Sebenarnya, yang mereka lakukan adalah lari dari kenyataan dengan cara mengabaikan kematian. Tanpa memikirkannya, mereka percaya bahwa mereka dapat menghindari peristiwa itu. Akan tetapi, hal ini seperti burung unta yang menenggelamkan kepalanya ke dalam pasir untuk mengindari bahaya. Mengabaikan bahaya tidak membuat bahaya itu hilang. Sebaliknya, orang tersebut berisiko menghadapi bahaya dengan tanpa memiliki persiapan. Akibatnya, ia akan menerima kejutan yang lebih besar lagi. Tidak seperti halnya orang beriman yang mentafakuri kematian dan menyiapkan dirinya terhadap kenyataan yang sangat penting ini, kebenaran yang akan dialami semua manusia yang hidup. Allah memperingatkan orang kafir dalam ayat-Nya,

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya, kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (al-Jumu’ah: 8)

Kematian bukanlah “bencana” yang harus dilupakan, melainkan pelajaran penting yang mengajarkan kepada manusia arti hidup yang sebenarnya. Dengan demikian, kematian seharusnya menjadi bahan pemikiran yang mendalam. Seorang muslim akan benar-benar merenungi kenyataan penting ini dengan kesungguhan dan kearifan. Mengapa semua manusia hidup pada masa tertentu dan kemudian mati? Semua makhluk hidup tidak kekal. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan dan tidak mampu menandingi Kekuasaan Allah. Allahlah satu-satunya Pemilik kehidupan; semua makhluk hidup dengan kehendak Allah dan akan mati dengan kehendak-Nya pula, seperti dinyatakan, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (ar-Rahmaan: 26-27)

Setiap orang akan mati, namun tak seorang pun dapat memperkirakan di mana dan kapan kematian akan menghampiri. Tidak seorang pun dapat menjamin ia akan hidup pada saat berikutnya. Karena itu, seorang muslim harus bertindak seolah-olah mereka sebentar lagi akan didatangi kematian. Berpikir tentang kematian akan membantu seseorang meningkatkan keikhlasan dan rasa takut kepada Allah, dan mereka akan selalu menyadari akan apa yang sedang menunggunya.

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiyaa’: 34-35).

Betulkah di dalam Islam ada yang namanya pacaran?

“Pacaran” adalah suatu kata yang tidak asing lagi kita dengar di kalangan remaja. Sebetulnya apa yang disebut dengan “pacaran” itu? Betulkah di dalam Islam ada yang namanya pacaran?

Pacaran diidentifikasikan sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai antara lawan jenis. Apabila kita lihat secara sepintas dari definisi diatas mungkin dapat disimpulkan bahwa pacaran itu merupakan suatu yang wajar dilakukan dikalangan remaja. Padahal apabila kita tinjau dari sudut agama Islam, dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits ternyata tidak ada satu kalimatpun yang menjelaskan tentang pacaran.

Dalam Islam hanya ada khitbah (tunangan). Tapi khan tidak mungkin kita tunangan tanpa mengenal pribadi calon kita?. Tidak seperti itu, sebelum terjadi khitbah, di dalam Islam dianjurkan untuk berta’aruf (berkenalan) itupun kalau seandainya kita siap untuk nikah. Sebenarnya rugi kalau seandainya pacar kita itu bukan jodoh yang Allah SWT takdirkan untuk kita. Padahal kita sudah berkorban.

Islam sesungguhnya agama kasih sayang, sangat tidak adil jika kita memberikan kasih sayang itu kepada seseorang saja. Padahal umat Islam itu bersaudara, Firman Allah dalam QS Al-Hujurat:10,

:> Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. Bagaimana kita bersaudara dalam Islam?

:> Saling bersilaturahmi, karena dengan bersilaturahmi dapat menumbuhkan rasa kasih sayang.

:> Saling bertausyiah, karena ketika kita lupa kita diingatkan, dan ketika orang lain lupa kita mengingatkan.

:> Saling mendo’akan.

Jadi kita harus memberikan kasih sayang kepada seluruh umat Islam di dunia ini, bukan hanya kepada seseorang dan kelompok tertentu saja.

Untuk itu, marilah kita sama-sama untuk menghindari yang namanya pacaran itu. Karena kasih sayang tidak harus diungkapkan kepada seseorang saja, tetapi kepada siapa saja. Apabila kita melakukan suatu perbuatan yang dilarang oleh agama, maka kita akan berdosa. Begitu juga pacaran, apabila kita melakukan apa yang disebut dengan pacaran, maka kita akan berdosa pula. Na’udzubillaahi min dzalik.

Oleh karena itu, hendaklah kita :

:> Menundukan pandangan.

Firman Allah dalam QS An-Nuur : 31
“Mewajibkan kita untuk menundukkan pandangan. Sabda Rasul : “Pandangan itu merupakan salah satu panah iblis.”

:> Jangan berduaan dengan lawan jenis.

:> Janganlah kamu pergi berduaan dengan lawan jenismu, sebab yang ketiganya adalah setan

:> Memperbanyak shaum sunat

Hal ini dimaksudkan agar kita selalu dapat menjaga pandangan dan menahan hawa nafsu.

Cobalah tiada lain suatu amalan yang dicintai Allah, sesungguhnya Allah akan jauh lebih mencintai kita. Carilah amalan yang disukai Allah, setelah kita tahu bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran, cobalah untuk membatasi diri dalam hal itu. Ingatlah bahwa jangankan berpacaran, mendekatinya saja kita sudah tidak boleh. Firman Allah “Janganlah kamu dekati zina“.
Kita tidak bisa menjaga pandangan dari yang tidak halal berarti kita sudah zina mata. Begitupun dengan pendengaran, pembicaraan, hati, bila tidak kita jaga dari perbuatan yang mendekati zina, berarti kita sudah berzina. Na’udzubillaahi Min Zaliq

Kata – Kata Bijak

  • “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun. – Bung Karno”;
  • “Kita semua hidup dalam ketegangan, dari waktu ke waktu, serta dari hari ke hari; dengan kata lain, kita adalah pahlawan dari cerita kita sendiri. – Mary Mccarthy”;
  • “Tiga sifat manusia yang merusak adalah, kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan. – Nabi Muhammad Saw”;
  • “Apa yang nampak sebagai suatu kemurahan hati, sering sebenarnya tiada lain daripada ambisi yang terselubung, yang mengabaikan kepentingan-kepentingan kecil untuk mengejar kepentingan- kepentingan yang lebih besar. – La Roucefoucauld”;
  • “Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu. – Benjamin Franklin”;
  • “Hati yang penuh syukur, bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan pula induk segala kebajikan yang lain. – Cicero”;

Do’a

“ Wahai Rabb Kami, milik-Mu lah segala puji sebagaimana selayaknya sesuai dengan keagungan wajah-Mu dan kebesaran kekuasaan-Mu.

Wahai Tuhan kami, bagi-Mu lah segala puji, segala syukur, dan segala kekuasaan.

Kepada-Mu lah segala urusan dikembalikan.

Kami semua butuh, maka berilah kami, dan bagi-Mu lah segala puji. Kami semua lemah, maka kuatkanlah kami, dan bagi-Mu lah segala puji.

Kami semua sesat, maka tunjukilah kami, dan bagi-Mu lah segala puji.

Kami semua miskin, maka kasihilah kami, dan bagi-Mu lah segala puji.

Ya Allah, kami meminta kepada-Mu sebagaimana permintaan orang-orang miskin, dan kami menyeru kepada-Mu sebagaimana seruan orang-orang hina, serta kami berdo’a kepada-Mu sebagaimana do’a orang-orang yang membutuhkan.

Kami berdo’a kepada-Mu sebagaimana do’a orang yang banyak dosanya, besar bencananya, dan lemah usahanya.

Kami tidak mampu menghitung puja-puji kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana Engkau puji diri-Mu.

Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad, junjungan kami di masa lalu.

Berikanlah shalawat kepada Muhammad, junjungan kami di masa akhir.

Berikanlah shalawat kepada Muhammad, junjungan kami di tempat tertinggi sampai hari kiamat. Juga berikanlah shalawat kepada Muhammad, junjungan kami di pada setiap masa dan zaman.

Ya Allah, kumpulkanlah kami dalam naungan panji benderanya.

Ya Allah, sampaikan kami ke telaga kautsarnya.

Ya Allah, siramkan kepada kami dari tangannya yang mulia, minuman yang baik, yang membuat kami tidak lagi dahaga.

Ya Allah, himpunkanlah kami bersama sebagaimana kami mengimaninya meskipun belum melihatnya. Janganlah pisahkan kami dengannya sampai kami memasuki pintu masuknya.

Ya Allah, kami tidak mendapat kebersamaan dengannya di dunia, maka janganlah Engkau lewatkan untuk kami kebersamaan dengannya di surga.

Ya Allah, kami mempersaksikan-Mu bahwa kami mencintai nabi-Mu, maka kumpulkanlah kami bersamanya di surga firdaus.

Ya Allah yang Maha memiliki Keagungan dan Kemuliaan, Wahai Yang Maha Dekat… Ya Qarib, Ya Qarib… Engkaulah yang telah berfirman: “ Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya aku kabulkan uintuk kalian”.

Wahai Yang Maha Mencintai… Ya Wadud… Ya Wadud…

Wahai yang memiliki singgasana yang agung…

Wahia yang Maha melakukan apa yang Dia inginkan…

Ya Allah, ampunilah kami sebagaimana Engkau mengampuni pada hari Arafah…

Ya Allah berikanlah taubat kepada kami dan ampunilah kami… Tiada lagi bagi kami selain Engkau…

Rabbi, inilah kehinaanku nampak nyata di hadapan-Mu, dan inilah keadaanku tiada samara lagi bagi-Mu. Kepada-Mu lah aku meminta sampai kepada-Mu. Dengan-Mu lah aku mencari petunjuk menuju Engkau. Tunjukilah aku dengan cahaya-Mu untuk menuju Engkau. Dan teguhkan aku dengan ketulusan berhamba di hadapan-Mu.

Tuhanku, ajarkanlah aku ilmu-ilmu-Mu yang tersimpan, dan sucikanlah aku dengan rahasia nama-Mu yang suci.

Kepada-Mu aku menggantungkan diri, maka janganlah biarkan aku…

Kepada-Mu aku meminta, maka janganlah kecewakan aku…

Atas karunia-Mu lah aku berharap, maka jangan halangi aku.

Ke sisi-Mu aku menuju, maka janganlah jauhkan aku…

Dan di pintu-Mu lah aku menunggu, maka janganlah usir diriku.

Ya Allah, perkenankanlah do’a kami. Dan penutup do’a kami adalah segala puji hanyalah milik Allah, Rabb seru sekalian alam.”

Amien3x ya Rabbal Alamin….

Jatim Park

Tanggal 04 November 2007 pukul 04.00 wib kita berkumpul di kantor (Smile Point) untuk berangkat rekreasi ke Taman Hiburan & Belajar Jatim Park di kota Batu Malang. Karena berangkatnya pagi banget mata rasanya ngantuk banget, akhirnya aq n dua temen kerja q (Neta & Nani) tidur. Setelah lewat arak-arak salah satu temen q ada yg mabok perjalanan (ga’ perlu sebutin nama ga’ enak ma orangnya) he3x.

Setelah nyampe Kota Probolinggo sekita pukul 06.00 wib kita berhenti di warung makan n di situ kita makan soto tp rasanya kurang pas (bukannya qta ga’ bersyukur) . Karena rasanya kurang pas makanan qta ga ada yg habis. setelah makan kita lanjutkan perjalanan n sekitar jam 08.00 ato jam 09.00 (lupa ga’ liat jam) kita nyempe’ dech di tempat tujuan (Jatim Park).

Setelah itu qta langsung beli tiket masuk (HTM/orang = Rp. 40.000) mgkn agak mahal tp dengan harga tiket segitu kita bisa menggunakan fasilitas permainan (banyak lho macam permainannya n ga’ mgkn aq sebutin satu2) yg ada di dalamnya. pokoknya ga’ nyesel dech beli tiket segitu. disamping kita rekreasi disana kita jg bisa belajar banyak ilmu pengetahuan.

jam 13.30 wib qta sholat Dzuhur & Ashar. Setelah ita kita lanjutkan perjalanan ke MATOS (Malang Town Square) sayang dsn qta ga belanja harganya mahal2 sech qta disana cm makan di KFC karena cuacanya lg hujan so makan rasanya enak banget (sebenernya kelaparan jg sech)he3x. Selesai makan qta muter2 sampe puyeng, trus lanjut dech ke MITRA & RAMAYANA baru dsn qta dapet oleh2 untuk di bawa plg.

Waktu udh menunjukkan jam 18.45 wib qta siap2 untuk perjalanan pulang (saking seneng & cape’ sampe lp qta ga’ sholat Maghrib tp rasanya ga’ tenang kepikiran trus) . Sekitar pukul 23.00 wib qta nyampe’ kantor lagi dech. Walaupun cape’ tp rasanya seneng banget n pikiran jd fresh lg untuk menyambut hari esok.

Jalanin hidup ini dengan rasa syukur niscaya kita bisa menikmati hidup. (By : Adhit)